Senin, 22 Juni 2015

Akibat Konversi Hutan



 Hutan di Indonesia memiliki nilai ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya bagi Negara dan khususnya masyarakat setempat. Jika dalam peranannya tidak seimbang, yang satu lebih ditekankan daripada yang lainnya, maka kelangsungan hidup hutan akan semakin terancam. Beberapa tahun terakhir eksploitasi sumber daya dan tekanan pembangunan mempunyai pengaruh pada hutan. Salah satu faktor yang menekan kerusakan hutan di Indonesia adalah Konversi hutan. Hutan yang dicadangkan untuk penggunaan lain, dapat dikonversi untuk pengelolaan non-kehutanan seperti perkebunan,pertanian dan pertambangan.

 Alih fungsi atau konversi kawasan hutan telah sering terjadi di Indonesia. Berbagai factor yang mendasari terjadinya alih fungsi hutan ini seperti kegiatan ekonomi, pengembangan wilayah dan kegiatan illegal loging dan kebakaran hutan. Kondisi hutan di Indonesia yang di Indikasikan dari luas penutupannya menunjukkan gambaran yang makin memprihatinkan.

 Pada tahun 2011 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyatakan saat ini konversi hutan oleh sejumlah perusahaan masih berlangsung khususnya di Riau. Dampak dari kasus Illegal logging sampai saat ini menimbulkan kerugian Negara sekitar Tp. 73,36 triliun. Menurut Ketua Walhi Eksekutif Nasional Muhammad Teguh Surya, saat ini setidaknya ada sekira 243.672 hektar hutan di Riau  atau dari kubikasi kayu alam sebanyak 23.753.599 meter kubik yang siap dikonversi perusahaan kertas dan bubur kertas di Riau. Ekspansi besar-besaran dalam industri kayu lapis dan industri pulpdan kertas selama 20 tahun terakhir menyebabkan permintaan terhadapbahan baku kayu pada saat ini jauh melebihi pasokan legal. Kesenjangannya mencapai 40 juta meter kubik setiap tahun. Banyak industri pengolahan kayu yang mengakui ketergantungan mereka pada kayu illegal, jumlahnya mencapai 65 persen dari pasokan total pada tahun 2000.


Dampak nyata yang dapat dirasakan diantaranya berupa:
·         berkurangnya curah hujan suatu wilayah yang luasan tutupan hutannyaberkurang    secara signifikan
·         meningkatnya debit puncak aliran sungai dibandingkan kondisi sebelum hutan dialihfungsikan, meskipun dengan kondisi curah hujan yang relative tetap hal ini merupakan salah satu pemicu terjadinya banjir.
·         Terjadinya kekeringan atau menurunnya debit sungai saat musimkemarau dibandingkan kondisi awal sebelum hutan dikonversi.
·         Meningkatkan erosi dan sedimentasi
·         Meningkatkan frekuensi kejadian longsor terutama longsor dangkal

Masalah Kesuburan Tanah Ketika Dilakukan Konversi Hutan Alami

A.           Sebelum konversi
1.        Tingginya intensitas hujan di wilayah tropis diimbangi dengan penutupan hutan alam yang begitu luas >> mengendalikan terjadinya banjir, erosi, sedimentasi dan tanah longsor.
2.        Gudang sumberdaya genetik dan pendukung ekosistem kehidupan.
3.        Pepohonan pada hutan alam menghasilkan serasah yang cukup tinggi >> meningkatkan kandungan bahan organik lantai hutan >> lantai hutan memiliki kapasitas peresapan air (infiltrasi) yang jauh lebih tinggi dibandingkan penutupan lahan non-hutan.
4.        Tebalnya lapisan serasah >> meningkatkan aktifitas biologi tanah.
5.        Siklus hidup/pergantian perakaran pohon (tree root turnover) yang amat dinamis dalam jangka waktu     yang lama >> tanah hutan memiliki banyak poripori berukuran besar (macroporosity) >> tanah hutan memiliki laju penyerapan air/pengisian air tanah (perkolasi) yang jauh lebih tinggi.
6.        stratifikasi hutan alam (bervariasinya umur dan ketinggian tajuk hutan), tingginya serasah dan tumbuhan bawah pada hutan alam >> penutupan lahan secara ganda >> efektif mengendalikan erosivitas hujan (daya rusak hujan), aliran permukaan dan erosi.
7.      Sisi bentang lahan (landscape) >> penggunaan lahan yang paling aman secara ekologis
8.      sangat sedikit sekali ditemukan jalan-jalan setapak, tidak ada saluran Irigasi & jalan berukuran besar yang diperkeras >> pada saat hujan besar berperan sebagai saluran drainase.
9.      biomasa hutan yang tidak beraturan >> filter pergerakan air dan sedimen.
10.    dalam hutan alam tidak dilakukan pengolahan tanah yang membuat lahan lebih peka terhadap erosi.
11.    hutan dalam kondisi yang tidak terganggu lebih tahan terhadap kekeringan >> tidak mudah terbakar.

B.      Sesudah konversi
1.      merusak habitat hutan alam >>  menghancurkan seluruh kekayaan hayati hutan yang tidak ternilai harga dan manfaatnya >> mengubah landscape hutan alam secara total.
2.      kerusakan seluruh ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) jika tidak dilakukan dengan baik
3.      meningkatnya aliran permukaan (surface runoff), tanah longsor,erosi dan sedimentasi
4.      semakin parah, apabila pembersihan lahan (setelah kayunya ditebang) dilakukan dengan cara pembakaran
5.      Rumput dan tumbuhan bawah secara menerus akan dibersihkan, karena akan berperan sebagai gulma tanaman pokok. Dilain pihak, rumput dan tumbuhan bawah ini justru berperan sangat penting untuk mengendalikan laju erosi dan aliran permukaan.
6.      Keberadaan pepohonan yang tanpa diimbangi oleh pembentukan serasah dan tumbuhan bawah àmeningkatkan laju erosi permukaan
7.      Pembangunan perkebunan memerlukan pembangunan jalan, dari jalan utama hingga jalan inspeksi, serta pembangunan infrastruktur (perkantoran, perumahan), termasuk saluran drainase. Kondisi ini apabila tidak dilakukan dengan baik (biasanya memang demikian) >> semakin cepatnya air hujan mengalir menuju ke hilir àperesapan air menjadi terbatas dan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor akan meningkat
8.      pohon kelapa sawit sebagai pohon yang cepat tumbuh (fast growing species) dikenal sebagai pohon yang rakus air, artinya pohon ini memiliki laju evapotranspirasi (penguap-keringatan) yang tinggi. Setiap pohon sawit memerlukan 20 – 30 liter air setiap harinya >> mengurangi ketersediaan air khususnya di musim kemarau.

Untuk Meminimalisir dampak dari konversi hutan ini, pada ahli fungsi hutan yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi perlu ahli dilakukan penerapan-penerapan teknik-teknik konversi tanah dan permanenan air pada tipe penggunaan lahan. Selain itu Kebijakan moratorium (penutupan sementara) konversi hutan alam dan lahan gambut harusnya mampu menjawab permasalahan kesemrawutan tata kelola kehutanan ini.
Kesimpulanya bahwa kesuburan tanah juga dipengaruhi oleh sejumlah air yang ada di suatu daereh tertentu, logikanya apakah tumbuhan atau kayu lainya mampuh bersaing dalam pengambilan air dengan kelapa sawit atau tidak? Jika tidak mampuh maka tumbuhan lainya bisa mengalami kematian. Karnea dalam proses fotosintesis tumbuhan sanngat membutuhkan air.



Sumber :

1.    (http://edom-bayau.blogspot.com/2013/12/konversi-hutan-alami-menjadi-perkebunan.html)


3.       https://www.academia.edu/8585258/ALIH_FUNGSI_KONVERSI_KAWASAN_HUTAN_INDONESIA_TINJAUAN_ASPEK_HIDROLOGI_DAN_KONSERVASI_TANAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar