Hutan
di Indonesia memiliki nilai ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya bagi Negara
dan khususnya masyarakat setempat. Jika dalam peranannya tidak seimbang, yang
satu lebih ditekankan daripada yang lainnya, maka kelangsungan hidup hutan akan
semakin terancam. Beberapa tahun terakhir eksploitasi sumber daya dan tekanan
pembangunan mempunyai pengaruh pada hutan. Salah satu faktor yang menekan
kerusakan hutan di Indonesia adalah Konversi hutan. Hutan yang dicadangkan
untuk penggunaan lain, dapat dikonversi untuk pengelolaan non-kehutanan seperti
perkebunan,pertanian dan pertambangan.
Alih
fungsi atau konversi kawasan hutan telah sering terjadi di Indonesia. Berbagai
factor yang mendasari terjadinya alih fungsi hutan ini seperti kegiatan
ekonomi, pengembangan wilayah dan kegiatan illegal loging dan kebakaran hutan.
Kondisi hutan di Indonesia yang di Indikasikan dari luas penutupannya
menunjukkan gambaran yang makin memprihatinkan.
Pada tahun 2011
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyatakan saat ini konversi hutan
oleh sejumlah perusahaan masih berlangsung khususnya di Riau. Dampak dari kasus
Illegal logging sampai saat ini menimbulkan kerugian Negara sekitar Tp. 73,36
triliun. Menurut Ketua Walhi Eksekutif Nasional Muhammad Teguh Surya, saat ini
setidaknya ada sekira 243.672 hektar hutan di Riau atau dari kubikasi
kayu alam sebanyak 23.753.599 meter kubik yang siap dikonversi perusahaan
kertas dan bubur kertas di Riau. Ekspansi besar-besaran dalam industri kayu
lapis dan industri pulpdan kertas selama 20 tahun terakhir menyebabkan
permintaan terhadapbahan baku kayu pada saat ini jauh melebihi pasokan legal. Kesenjangannya
mencapai 40 juta meter kubik setiap tahun. Banyak industri pengolahan kayu yang
mengakui ketergantungan mereka pada kayu illegal, jumlahnya mencapai
65 persen dari pasokan total pada tahun 2000.
Dampak
nyata yang dapat dirasakan diantaranya berupa:
·
berkurangnya curah hujan
suatu wilayah yang luasan tutupan hutannyaberkurang secara signifikan
·
meningkatnya debit puncak aliran
sungai dibandingkan kondisi sebelum hutan dialihfungsikan, meskipun dengan
kondisi curah hujan yang relative tetap hal ini merupakan salah satu pemicu
terjadinya banjir.
·
Terjadinya kekeringan
atau menurunnya debit sungai saat musimkemarau dibandingkan kondisi
awal sebelum hutan dikonversi.
·
Meningkatkan erosi dan
sedimentasi
·
Meningkatkan
frekuensi kejadian longsor terutama longsor dangkal
Masalah Kesuburan Tanah Ketika Dilakukan
Konversi Hutan Alami
A.
Sebelum konversi
1.
Tingginya intensitas hujan di wilayah tropis diimbangi dengan
penutupan hutan alam yang begitu luas >> mengendalikan terjadinya
banjir, erosi, sedimentasi dan tanah longsor.
2.
Gudang sumberdaya genetik dan pendukung ekosistem kehidupan.
3.
Pepohonan pada hutan alam menghasilkan serasah yang cukup
tinggi >> meningkatkan kandungan bahan organik lantai
hutan >> lantai hutan memiliki kapasitas peresapan air
(infiltrasi) yang jauh lebih tinggi dibandingkan penutupan lahan non-hutan.
4.
Tebalnya lapisan serasah >> meningkatkan
aktifitas biologi tanah.
5.
Siklus hidup/pergantian perakaran pohon (tree root turnover)
yang amat dinamis dalam jangka waktu yang
lama >> tanah hutan memiliki banyak poripori berukuran besar (macroporosity) >>
tanah hutan memiliki laju penyerapan air/pengisian air tanah (perkolasi) yang
jauh lebih tinggi.
6.
stratifikasi hutan alam (bervariasinya umur dan ketinggian tajuk
hutan), tingginya serasah dan tumbuhan bawah pada hutan
alam >> penutupan lahan secara ganda >> efektif
mengendalikan erosivitas hujan (daya rusak hujan), aliran permukaan dan erosi.
7.
Sisi bentang lahan (landscape) >> penggunaan
lahan yang paling aman secara ekologis
8.
sangat sedikit sekali ditemukan jalan-jalan setapak, tidak ada
saluran Irigasi & jalan berukuran besar yang
diperkeras >> pada saat hujan besar berperan sebagai saluran
drainase.
9.
biomasa hutan yang tidak beraturan >> filter pergerakan
air dan sedimen.
10.
dalam hutan alam tidak dilakukan pengolahan tanah yang membuat
lahan lebih peka terhadap erosi.
11.
hutan dalam kondisi yang tidak terganggu lebih tahan terhadap
kekeringan >> tidak mudah terbakar.
B.
Sesudah konversi
1.
merusak habitat hutan alam >> menghancurkan
seluruh kekayaan hayati hutan yang tidak ternilai harga dan manfaatnya >> mengubah landscape hutan
alam secara total.
2.
kerusakan seluruh ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) jika
tidak dilakukan dengan baik
3.
meningkatnya aliran permukaan (surface runoff), tanah
longsor,erosi dan sedimentasi
4.
semakin parah, apabila pembersihan lahan (setelah kayunya
ditebang) dilakukan dengan cara pembakaran
5.
Rumput dan tumbuhan bawah secara menerus akan dibersihkan,
karena akan berperan sebagai gulma tanaman pokok. Dilain pihak, rumput dan
tumbuhan bawah ini justru berperan sangat penting untuk mengendalikan laju
erosi dan aliran permukaan.
6.
Keberadaan pepohonan yang tanpa diimbangi oleh pembentukan
serasah dan tumbuhan bawah àmeningkatkan laju erosi permukaan
7.
Pembangunan perkebunan memerlukan pembangunan jalan, dari jalan
utama hingga jalan inspeksi, serta pembangunan infrastruktur (perkantoran,
perumahan), termasuk saluran drainase. Kondisi ini apabila tidak dilakukan
dengan baik (biasanya memang demikian) >> semakin cepatnya air
hujan mengalir menuju ke hilir àperesapan air menjadi terbatas dan peluang
terjadinya banjir dan tanah longsor akan meningkat
8.
pohon kelapa sawit sebagai pohon yang cepat tumbuh (fast
growing species) dikenal sebagai pohon yang rakus air, artinya pohon ini
memiliki laju evapotranspirasi (penguap-keringatan) yang tinggi. Setiap pohon
sawit memerlukan 20 – 30 liter air setiap harinya >> mengurangi
ketersediaan air khususnya di musim kemarau.
Untuk Meminimalisir dampak dari konversi hutan
ini, pada ahli fungsi hutan yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi perlu ahli
dilakukan penerapan-penerapan teknik-teknik konversi tanah dan permanenan air
pada tipe penggunaan lahan. Selain itu Kebijakan moratorium (penutupan sementara)
konversi hutan alam dan lahan gambut harusnya mampu menjawab permasalahan
kesemrawutan tata kelola kehutanan ini.
Kesimpulanya bahwa kesuburan tanah juga
dipengaruhi oleh sejumlah air yang ada di suatu daereh tertentu, logikanya
apakah tumbuhan atau kayu lainya mampuh bersaing dalam pengambilan air dengan
kelapa sawit atau tidak? Jika tidak mampuh maka tumbuhan lainya bisa mengalami
kematian. Karnea dalam proses fotosintesis tumbuhan sanngat membutuhkan air.
Sumber :
1. (http://edom-bayau.blogspot.com/2013/12/konversi-hutan-alami-menjadi-perkebunan.html)
3.
https://www.academia.edu/8585258/ALIH_FUNGSI_KONVERSI_KAWASAN_HUTAN_INDONESIA_TINJAUAN_ASPEK_HIDROLOGI_DAN_KONSERVASI_TANAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar