Selasa, 30 Juni 2015

Tugas Review Jurnal Tema ISO 14001



REVIEW
ANALISA SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DI PT. JANATA MARINA INDAH SEMARANG BERDASARKAN ISO 14001
Darminto Pujotomo, ST.MT., Agus Yulianto Subekhi
Program Studi Teknik Industri, Universitas Diponegoro
Jl. Prof Sudarto, SH Tembalang-Semarang, Telp.0247460052

Pendahuluan
Permasalahan lingkungan semakin populer pada dekade terakhir ini. Globalisasi di berbagai bidang pada akhir-akhir ini tidak luput dan terkait dengan perkembangan masalah lingkungan. PT.Janata Marina Indah Semarang merupakan salah satu perusahaan swasta nasional Indonesia, dalam bidang produk dan perbaikan kapal, dimana dalam proses produksinya melalui beberapa tahap yang setiap tahapnya dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Untuk melakukan sistem manajemen lingkungan yang baik, maka diperlukan adanya suatu standar yang menjelaskan tentang sistem tersebut. Munculnya organisasi internasional di bidang standardisasi yaitu ISO (International Organization for Standardization) memberikan peluang tiap perusahaan untuk meningkatkan daya saing perusahaan di kancah global. Dalam komitmennya untuk berpartisipasi memperbaiki lingkungan PT. Janata Marina Indah Semarang berharap nantinya dapat mendaftarkan perusahaannya dalam ISO 14001. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut PT. Janata Marina Indah, Semarang perlu menerapkan standar-standar international guna mendukung keberlangsungan perusahaan, yang diantaranya adalah menerapkan sistem manajemen lingkungan yang dikenal dengan istilah ISO 14001.

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari studi lapangan pendahuluan, identifikasi masalah, perumusan masalah, penentuan tujuan penelitian, kemudian melakukan studi studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka merupakan tahapan penelitian dimana penulis melakukan observasi terhadap literature-literatur yang ada untuk mendapatkan teori-teori yang mendukung pemecahan masalah yang dilakukan. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Checklist. Terdapat 5 prinsip dan 17 elemen pada ISO 14001 dan menghasilkan 31 pertanyaan. Skor yang tinggi di elemen apapun tidak selalu merupakan tanda bahwa kebutuhan dasarnya terpenuhi, jika kriteria inti dalam elemen tidak terpenuhi.

Hasil Analisa
Berdasarkan hasil observasi, total skor yang dihasilkan dari 5 prinsip yang terdapat pada ISO adalah:
  • Prinsip kebijakan dan komitmen. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 7. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini memiliki kebijakan lingkungan yang memenuhi standar, tetapi tidak semua.
  • Prinsip perencanaan. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah 5. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini telah membuat banyak kemajuan dalam mengidentifikasi sebagian besar aspek lingkungan serta persyaratan hukum, tetapi masih banyak perbaikan yang diperlukan.
  • Prinsip penerapan dan operasi. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 12. ini menjelaskan bahwa organisasi ini telah memiliki banyak prosedur untuk mencapai kebijakan dan targetnya sudah ada, tetapi mungkin mereka tidak mencakup situasi darurat.
  • Prinsip pemeriksaan dan tindakan koreksi. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 2. Ini menjelaskan bahwa organisasi masih sedikit, (jika ada) prosedur telah dikembangkan atau diterapkan untuk memeriksa kinerja SML dan elemen komponennya.
  • Prinsip tinjauan manajemen. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 1. Ini menjelaskan bahwa organisasipernah melakukan tinjauan manajemen mengenai SML, akan tetapi tidak ada jadwal berkala untuk mengkaji Sistem Lingkungan yang ada 

Solusi
Sesuai dengan observasi dengan menggunakan checklist, adapun rancangan perbaikan yang harus dilakukan, yaitu:

Prinsip kebijakan dan komitmen.

  • Manajemen puncak sebaiknya dibentuk dan didokumentasikan kebijakan lingkungan yang memenuhi sebagian besar persyaratan standar.
  • Mencegah pencemaran dan mencapai perbaikan berkelanjutan pengembangan prosedur evaluasi kineja lingkungan dan indikator yang terkait

Prinsip perencanaan

  • Perlunya proses identifikasi aspek lingkungan dengan membutuhkan partisipai dan peran serta dalam memahami kegiatan.
  • Penentuan tujuan dan sasaran untuk mencapainnya.

Prinsip Penerapan dan Operasi

  • Mengadakan dam membuat program pelatihan.
  • Menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengendalikan semua dokumen yang dipersyaratkan ISO 14001

Prinsip Pemeriksaan dan Tindakan Koreksi

  • Audit sebaiknya dilakukan pada jangka waktu yang ditentukan. Audit bertujuan untuk menentukan apakah Sistem Manajemen Lingkungan sesuai dengan pengaturan dan perencanaan.

Prinsip Tinjauan Manajemen

  • Sebaiknya organisasi secara berkala meninjau dan melakukan perbaikan SML secara berkelanjutan dengan tujuan memperbaiki kinerja lingkungannya secara keseluruhan.

Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisa data mengenai Sistem Manajemen Lingkungan perusahaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di PT. Janata Marina Indah Semarang saat ini masih kurang memenuhi persyaratan ISO 14001. Keadaan tersebut bukan merupakan persiapan yang baik dalam hal mendapatkan sertifikasi ISO 14001, oleh karena itu rancangan perbaikan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi untuk mendapatkan sertifikasi ISO 14001. Kunci sukses untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) dalam ISO 14001 ini adalah dengan diperlukannya komitmen dan keterlibatan manajemen. Kurangnya pemahaman tentang peran dan tanggungjawab dari manajemen akan menyebabkan system tidak efektif atau komitmen penyempurnaan keberlanjutan tidak terpenuhi dengan baik.

Sumber Referensi Jurnal: puspitadewiwidayat.blogspot.com

Senin, 29 Juni 2015

Pencemaran Air dan Sifat Air Tercemar



Air adalah komponen lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Kita sebagai makhluk hidup tidak pernah lepas akan pentingnya air. Bahkan bila tidak ada air dibumi kita ini, maka kehidupan pun tidak akan ada. Namun harus diperhatikan, air juga bisa membawa malapetaka bagi kehidupan kita bila tidak tersedia dengan kondisi yang benar.

    A.      Pencemaran Air

Pencemaran air atau polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Yaitu, suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia maupun alam. Pencemaran Air adalah masalah yang saat ini sulit untuk dihindari terutama di daerah padat penduduk dan disekitar tempat industri.
Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, pencemaran air merupakan penyebab utama gangguan kesehatan manusia/penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh dunia, lebih dari 14.000 orang meninggal dunia setiap hari akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air. Air permukaan dan air sumur biasannya mengandung bahan-bahan metal terlarut seperti Na ( natrium) , Mg (logam) ,Ca (kalsium) dan Fe (besi). Air yang mengandung komponen-komponen tersebut dalam jumlah tinggi disebut air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung kadar mineral yang tinggi.

Contoh Air yang Tercemar:
·         Air minum yang tercemar rasanya akan berubah.
·         Kehidupan hewan air dan hayati akan berkurang pada air sungai yang tercemar.
·         Bau menyengat yang timbul pada laut, sungai dan danau yang terpolusi.

    B.      Sifat Air Yang Tercemar

Air yang aman adalah air yang sesuai dengan kriteria bagi peruntukkan air tersebut. Indikator pencemaran air atau tanda bahwa lingkungan air telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat digolongkan sebagai berikut:
1.       Nilai pH keasaman dan alkanitas
pH normal air adalah 6-8 pH. Bila terlalu rendah, air akan menjadi asam dan bila terlalu tinggi dapat menyebabkan basa.
2.       Suhu
Apabila suhu terlalu rendah, maka air akan terasa sejuk bahkan dingin hingga sedingin es. Begitupula sebaliknya. Akan tetapi,air biasa akan memiliki suhu pas di ukuran 0  ̊ Celcius.
3.       Warna, bau dan rasa
Warna air yang bersih biasanya berbeda dengan warna normalnya (jernih dan bening). Bau biasanya tergantung pada sumber air, dapat disebabkan oleh bahan kimia, tumbuhan dan hewan air baik yang hidup maupun mati. Rasa air normal tidak mempunyai rasa, kecuali rasa air pada air laut.
4.        Pengamatan secara Biologis
Pengamatan pencemara air berdasarkan mikroorgansme yang ada didalam air, terutama ada atau tidaknya bakteri pathogen.
5.       Kandungan minyak
6.        Kandungan bahan radioaktif

Sejatinya, air adalah rezeki yang diturunkan Tuhan untuk kehidupan manusia. Air adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan di dunia ini dengan kata lain, bahwa tanpa air seluruh kehidupan di dunia ini akan punah. Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang merupakan pemakai ciptaan Tuhan yang luar biasa itu, harus dapat menjaganya.

Senin, 22 Juni 2015

Akibat Konversi Hutan



 Hutan di Indonesia memiliki nilai ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya bagi Negara dan khususnya masyarakat setempat. Jika dalam peranannya tidak seimbang, yang satu lebih ditekankan daripada yang lainnya, maka kelangsungan hidup hutan akan semakin terancam. Beberapa tahun terakhir eksploitasi sumber daya dan tekanan pembangunan mempunyai pengaruh pada hutan. Salah satu faktor yang menekan kerusakan hutan di Indonesia adalah Konversi hutan. Hutan yang dicadangkan untuk penggunaan lain, dapat dikonversi untuk pengelolaan non-kehutanan seperti perkebunan,pertanian dan pertambangan.

 Alih fungsi atau konversi kawasan hutan telah sering terjadi di Indonesia. Berbagai factor yang mendasari terjadinya alih fungsi hutan ini seperti kegiatan ekonomi, pengembangan wilayah dan kegiatan illegal loging dan kebakaran hutan. Kondisi hutan di Indonesia yang di Indikasikan dari luas penutupannya menunjukkan gambaran yang makin memprihatinkan.

 Pada tahun 2011 Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyatakan saat ini konversi hutan oleh sejumlah perusahaan masih berlangsung khususnya di Riau. Dampak dari kasus Illegal logging sampai saat ini menimbulkan kerugian Negara sekitar Tp. 73,36 triliun. Menurut Ketua Walhi Eksekutif Nasional Muhammad Teguh Surya, saat ini setidaknya ada sekira 243.672 hektar hutan di Riau  atau dari kubikasi kayu alam sebanyak 23.753.599 meter kubik yang siap dikonversi perusahaan kertas dan bubur kertas di Riau. Ekspansi besar-besaran dalam industri kayu lapis dan industri pulpdan kertas selama 20 tahun terakhir menyebabkan permintaan terhadapbahan baku kayu pada saat ini jauh melebihi pasokan legal. Kesenjangannya mencapai 40 juta meter kubik setiap tahun. Banyak industri pengolahan kayu yang mengakui ketergantungan mereka pada kayu illegal, jumlahnya mencapai 65 persen dari pasokan total pada tahun 2000.


Dampak nyata yang dapat dirasakan diantaranya berupa:
·         berkurangnya curah hujan suatu wilayah yang luasan tutupan hutannyaberkurang    secara signifikan
·         meningkatnya debit puncak aliran sungai dibandingkan kondisi sebelum hutan dialihfungsikan, meskipun dengan kondisi curah hujan yang relative tetap hal ini merupakan salah satu pemicu terjadinya banjir.
·         Terjadinya kekeringan atau menurunnya debit sungai saat musimkemarau dibandingkan kondisi awal sebelum hutan dikonversi.
·         Meningkatkan erosi dan sedimentasi
·         Meningkatkan frekuensi kejadian longsor terutama longsor dangkal

Masalah Kesuburan Tanah Ketika Dilakukan Konversi Hutan Alami

A.           Sebelum konversi
1.        Tingginya intensitas hujan di wilayah tropis diimbangi dengan penutupan hutan alam yang begitu luas >> mengendalikan terjadinya banjir, erosi, sedimentasi dan tanah longsor.
2.        Gudang sumberdaya genetik dan pendukung ekosistem kehidupan.
3.        Pepohonan pada hutan alam menghasilkan serasah yang cukup tinggi >> meningkatkan kandungan bahan organik lantai hutan >> lantai hutan memiliki kapasitas peresapan air (infiltrasi) yang jauh lebih tinggi dibandingkan penutupan lahan non-hutan.
4.        Tebalnya lapisan serasah >> meningkatkan aktifitas biologi tanah.
5.        Siklus hidup/pergantian perakaran pohon (tree root turnover) yang amat dinamis dalam jangka waktu     yang lama >> tanah hutan memiliki banyak poripori berukuran besar (macroporosity) >> tanah hutan memiliki laju penyerapan air/pengisian air tanah (perkolasi) yang jauh lebih tinggi.
6.        stratifikasi hutan alam (bervariasinya umur dan ketinggian tajuk hutan), tingginya serasah dan tumbuhan bawah pada hutan alam >> penutupan lahan secara ganda >> efektif mengendalikan erosivitas hujan (daya rusak hujan), aliran permukaan dan erosi.
7.      Sisi bentang lahan (landscape) >> penggunaan lahan yang paling aman secara ekologis
8.      sangat sedikit sekali ditemukan jalan-jalan setapak, tidak ada saluran Irigasi & jalan berukuran besar yang diperkeras >> pada saat hujan besar berperan sebagai saluran drainase.
9.      biomasa hutan yang tidak beraturan >> filter pergerakan air dan sedimen.
10.    dalam hutan alam tidak dilakukan pengolahan tanah yang membuat lahan lebih peka terhadap erosi.
11.    hutan dalam kondisi yang tidak terganggu lebih tahan terhadap kekeringan >> tidak mudah terbakar.

B.      Sesudah konversi
1.      merusak habitat hutan alam >>  menghancurkan seluruh kekayaan hayati hutan yang tidak ternilai harga dan manfaatnya >> mengubah landscape hutan alam secara total.
2.      kerusakan seluruh ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) jika tidak dilakukan dengan baik
3.      meningkatnya aliran permukaan (surface runoff), tanah longsor,erosi dan sedimentasi
4.      semakin parah, apabila pembersihan lahan (setelah kayunya ditebang) dilakukan dengan cara pembakaran
5.      Rumput dan tumbuhan bawah secara menerus akan dibersihkan, karena akan berperan sebagai gulma tanaman pokok. Dilain pihak, rumput dan tumbuhan bawah ini justru berperan sangat penting untuk mengendalikan laju erosi dan aliran permukaan.
6.      Keberadaan pepohonan yang tanpa diimbangi oleh pembentukan serasah dan tumbuhan bawah àmeningkatkan laju erosi permukaan
7.      Pembangunan perkebunan memerlukan pembangunan jalan, dari jalan utama hingga jalan inspeksi, serta pembangunan infrastruktur (perkantoran, perumahan), termasuk saluran drainase. Kondisi ini apabila tidak dilakukan dengan baik (biasanya memang demikian) >> semakin cepatnya air hujan mengalir menuju ke hilir àperesapan air menjadi terbatas dan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor akan meningkat
8.      pohon kelapa sawit sebagai pohon yang cepat tumbuh (fast growing species) dikenal sebagai pohon yang rakus air, artinya pohon ini memiliki laju evapotranspirasi (penguap-keringatan) yang tinggi. Setiap pohon sawit memerlukan 20 – 30 liter air setiap harinya >> mengurangi ketersediaan air khususnya di musim kemarau.

Untuk Meminimalisir dampak dari konversi hutan ini, pada ahli fungsi hutan yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi perlu ahli dilakukan penerapan-penerapan teknik-teknik konversi tanah dan permanenan air pada tipe penggunaan lahan. Selain itu Kebijakan moratorium (penutupan sementara) konversi hutan alam dan lahan gambut harusnya mampu menjawab permasalahan kesemrawutan tata kelola kehutanan ini.
Kesimpulanya bahwa kesuburan tanah juga dipengaruhi oleh sejumlah air yang ada di suatu daereh tertentu, logikanya apakah tumbuhan atau kayu lainya mampuh bersaing dalam pengambilan air dengan kelapa sawit atau tidak? Jika tidak mampuh maka tumbuhan lainya bisa mengalami kematian. Karnea dalam proses fotosintesis tumbuhan sanngat membutuhkan air.



Sumber :

1.    (http://edom-bayau.blogspot.com/2013/12/konversi-hutan-alami-menjadi-perkebunan.html)


3.       https://www.academia.edu/8585258/ALIH_FUNGSI_KONVERSI_KAWASAN_HUTAN_INDONESIA_TINJAUAN_ASPEK_HIDROLOGI_DAN_KONSERVASI_TANAH