Rabu, 01 Juli 2015

Manajemen Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun (B3) Dan Penerapannya di Industri Manufaktur Dalam Rangka Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Serta Perlindungan Lingkungan



Manajemen atau pengelolaan dan penanganan bahan kimia berbahaya dan beracun atau lebih populer dengan istilah B3 dalam rangka keselamatan dan kesehatan kerja, merupakan aspek yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian. Banyak terjadi kecelakaan dalam industri yang disebabkan karena ketidak-tahuan operator ataupun pekerja dalam mengenali dan menangani B3 tersebut.
Kita sangat perlu mengetahui pengaruh bahaya dan racun dari B3 tersebut. Pengaruh B3 tersebut antara lain: dapat menimbulkan kebakaran, ledakan, keracunan, dan iritasi pada permukaan atau bagian tubuh


Banyak sekali aspek keselamatan yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Dari seluruh aspek tersebut selalu melibatkan tiga komponen yang saling berkaitan yakni manusia, prosedur/metode kerja, dan peralatan/ bahan. Faktor penyebab kecelakaan kerja berdasarkan data yang dikumpulkan oleh sebuah perusahaan perminyakan di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.

Sikap dan tingkah laku pekerja sebagai faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja antara lain karena :
a. Keterbatasan pengetahuan/ keterampilan pekerja.
b. Lalai dan ceroboh dalam bekerja.
c. Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
d. Tidak disiplin dalam mentaati peraturan keselamatan kerja termasuk pemakaian alat pelindung diri.

Namun, Mengingat faktor terbesar penyebab kecelakaan kerja adalah faktor manusia, maka usaha untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja perlu diarahkan pada peningkatan pembinaan rasa tanggung jawab, sikap dalam bekerja dan peningkatan pengetahuan tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

Penerapan pengolahan limbah B3 di Industri dapat dilihat di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia yang melakukan manajemen pengelolaan limbah B3 dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan.

PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan komponen/perakitan kendaraan bermotor roda empat merk TOYOTA, dan perlengkapan mesin pengolah/pengerjaan logam. PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia menghasilkan limbah bersifat berbahaya dan beracun dari kegiatan proses produksi dan berpotensi menjadi pencemar bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.  Limbah B3 yang dihasilkan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia adalah sludge IPAL, kerak cat/sludge painting, phosphat sludge, thinner bekas, oli bekas, aki bekas, majun bekas, lampu TL bekas, kemasan bekas B3 (kaleng cat,jerigen, kaleng thinner, drum), abu insinerator, dan limbah poliklinik.

Pengelolaan limbah B3 yang dilakukan PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia meliputi:
  1.  Reduksi 
  2.   Pengelolaan Internal
  3.   Pewadahan dan Pengumpulan
  4.  Penyimpanan Sementara
  5.  Label dan simbol
  6. Pengangkutan
  7. Outplant Treatment
  8. Perizinan dan Pengawasan
  9. Pemanfaatan
  10. Biaya

Prinsip utama dalam sistem manajemen B3 meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang berupa pengawasan.

Pengadaan B3 perlu perencanaan yang baik dan benar untuk menghindari penumpukan dan penggunaan yang tidak benar yang berpotensi untuk terjadinya kecelakaan. Pengadaan B3 harus disesuaikan dengan kebutuhan terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan, selain itu harus memperhatikan stok yang masih ada. Untuk itu perlu adanya pembuatan kartu stok sebagai kontrol dalam menyusun rencana kebutuhan bahan kimia dan identifikasi status bahan yang masih ada. Selain itu juga dilakukan klasifikasi terhadap bahan yang akan diadakan sehingga dalam pengelolaan maupun penyimpanan dilakukan sesuai persyaratan yang telah ditentukan.

Sumber Referensi:
1.       Puspitadewiwidayat.blogspot.com 
 2.  Jurnal MANAJEMEN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN BERACUN SEBAGAI UPAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA PERLINDUNGAN LINGKUNGAN oleh Nur Tri Harjanto, Suliyanto, Endang Sukesi I. Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir – BATAN 
3.  Jurnal PENERAPAN PENGELOLAAN LIMBAH B3 DI PT. TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA Oleh Cesar Ray Ratman dan Syafrudin. Alumni Program Studi Teknik Lingkungan FT UNDIP  Program Studi Teknik Lingkungan FT UNDIP, Jl. Prof. H. Sudarto, SH Tembalang Semarang,

Selasa, 30 Juni 2015

Tugas Review Jurnal Tema ISO 14001



REVIEW
ANALISA SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN DI PT. JANATA MARINA INDAH SEMARANG BERDASARKAN ISO 14001
Darminto Pujotomo, ST.MT., Agus Yulianto Subekhi
Program Studi Teknik Industri, Universitas Diponegoro
Jl. Prof Sudarto, SH Tembalang-Semarang, Telp.0247460052

Pendahuluan
Permasalahan lingkungan semakin populer pada dekade terakhir ini. Globalisasi di berbagai bidang pada akhir-akhir ini tidak luput dan terkait dengan perkembangan masalah lingkungan. PT.Janata Marina Indah Semarang merupakan salah satu perusahaan swasta nasional Indonesia, dalam bidang produk dan perbaikan kapal, dimana dalam proses produksinya melalui beberapa tahap yang setiap tahapnya dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Untuk melakukan sistem manajemen lingkungan yang baik, maka diperlukan adanya suatu standar yang menjelaskan tentang sistem tersebut. Munculnya organisasi internasional di bidang standardisasi yaitu ISO (International Organization for Standardization) memberikan peluang tiap perusahaan untuk meningkatkan daya saing perusahaan di kancah global. Dalam komitmennya untuk berpartisipasi memperbaiki lingkungan PT. Janata Marina Indah Semarang berharap nantinya dapat mendaftarkan perusahaannya dalam ISO 14001. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut PT. Janata Marina Indah, Semarang perlu menerapkan standar-standar international guna mendukung keberlangsungan perusahaan, yang diantaranya adalah menerapkan sistem manajemen lingkungan yang dikenal dengan istilah ISO 14001.

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari studi lapangan pendahuluan, identifikasi masalah, perumusan masalah, penentuan tujuan penelitian, kemudian melakukan studi studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka merupakan tahapan penelitian dimana penulis melakukan observasi terhadap literature-literatur yang ada untuk mendapatkan teori-teori yang mendukung pemecahan masalah yang dilakukan. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Checklist. Terdapat 5 prinsip dan 17 elemen pada ISO 14001 dan menghasilkan 31 pertanyaan. Skor yang tinggi di elemen apapun tidak selalu merupakan tanda bahwa kebutuhan dasarnya terpenuhi, jika kriteria inti dalam elemen tidak terpenuhi.

Hasil Analisa
Berdasarkan hasil observasi, total skor yang dihasilkan dari 5 prinsip yang terdapat pada ISO adalah:
  • Prinsip kebijakan dan komitmen. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 7. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini memiliki kebijakan lingkungan yang memenuhi standar, tetapi tidak semua.
  • Prinsip perencanaan. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah 5. Ini menjelaskan bahwa organisasi ini telah membuat banyak kemajuan dalam mengidentifikasi sebagian besar aspek lingkungan serta persyaratan hukum, tetapi masih banyak perbaikan yang diperlukan.
  • Prinsip penerapan dan operasi. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 12. ini menjelaskan bahwa organisasi ini telah memiliki banyak prosedur untuk mencapai kebijakan dan targetnya sudah ada, tetapi mungkin mereka tidak mencakup situasi darurat.
  • Prinsip pemeriksaan dan tindakan koreksi. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 2. Ini menjelaskan bahwa organisasi masih sedikit, (jika ada) prosedur telah dikembangkan atau diterapkan untuk memeriksa kinerja SML dan elemen komponennya.
  • Prinsip tinjauan manajemen. Total skor yang dihasilkan dari prinsip ini adalah sebesar 1. Ini menjelaskan bahwa organisasipernah melakukan tinjauan manajemen mengenai SML, akan tetapi tidak ada jadwal berkala untuk mengkaji Sistem Lingkungan yang ada 

Solusi
Sesuai dengan observasi dengan menggunakan checklist, adapun rancangan perbaikan yang harus dilakukan, yaitu:

Prinsip kebijakan dan komitmen.

  • Manajemen puncak sebaiknya dibentuk dan didokumentasikan kebijakan lingkungan yang memenuhi sebagian besar persyaratan standar.
  • Mencegah pencemaran dan mencapai perbaikan berkelanjutan pengembangan prosedur evaluasi kineja lingkungan dan indikator yang terkait

Prinsip perencanaan

  • Perlunya proses identifikasi aspek lingkungan dengan membutuhkan partisipai dan peran serta dalam memahami kegiatan.
  • Penentuan tujuan dan sasaran untuk mencapainnya.

Prinsip Penerapan dan Operasi

  • Mengadakan dam membuat program pelatihan.
  • Menetapkan dan memelihara prosedur untuk mengendalikan semua dokumen yang dipersyaratkan ISO 14001

Prinsip Pemeriksaan dan Tindakan Koreksi

  • Audit sebaiknya dilakukan pada jangka waktu yang ditentukan. Audit bertujuan untuk menentukan apakah Sistem Manajemen Lingkungan sesuai dengan pengaturan dan perencanaan.

Prinsip Tinjauan Manajemen

  • Sebaiknya organisasi secara berkala meninjau dan melakukan perbaikan SML secara berkelanjutan dengan tujuan memperbaiki kinerja lingkungannya secara keseluruhan.

Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisa data mengenai Sistem Manajemen Lingkungan perusahaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di PT. Janata Marina Indah Semarang saat ini masih kurang memenuhi persyaratan ISO 14001. Keadaan tersebut bukan merupakan persiapan yang baik dalam hal mendapatkan sertifikasi ISO 14001, oleh karena itu rancangan perbaikan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi untuk mendapatkan sertifikasi ISO 14001. Kunci sukses untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) dalam ISO 14001 ini adalah dengan diperlukannya komitmen dan keterlibatan manajemen. Kurangnya pemahaman tentang peran dan tanggungjawab dari manajemen akan menyebabkan system tidak efektif atau komitmen penyempurnaan keberlanjutan tidak terpenuhi dengan baik.

Sumber Referensi Jurnal: puspitadewiwidayat.blogspot.com

Senin, 29 Juni 2015

Pencemaran Air dan Sifat Air Tercemar



Air adalah komponen lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Kita sebagai makhluk hidup tidak pernah lepas akan pentingnya air. Bahkan bila tidak ada air dibumi kita ini, maka kehidupan pun tidak akan ada. Namun harus diperhatikan, air juga bisa membawa malapetaka bagi kehidupan kita bila tidak tersedia dengan kondisi yang benar.

    A.      Pencemaran Air

Pencemaran air atau polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Yaitu, suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia maupun alam. Pencemaran Air adalah masalah yang saat ini sulit untuk dihindari terutama di daerah padat penduduk dan disekitar tempat industri.
Di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, pencemaran air merupakan penyebab utama gangguan kesehatan manusia/penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh dunia, lebih dari 14.000 orang meninggal dunia setiap hari akibat penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran air. Air permukaan dan air sumur biasannya mengandung bahan-bahan metal terlarut seperti Na ( natrium) , Mg (logam) ,Ca (kalsium) dan Fe (besi). Air yang mengandung komponen-komponen tersebut dalam jumlah tinggi disebut air sadah. Air sadah adalah air yang mengandung kadar mineral yang tinggi.

Contoh Air yang Tercemar:
·         Air minum yang tercemar rasanya akan berubah.
·         Kehidupan hewan air dan hayati akan berkurang pada air sungai yang tercemar.
·         Bau menyengat yang timbul pada laut, sungai dan danau yang terpolusi.

    B.      Sifat Air Yang Tercemar

Air yang aman adalah air yang sesuai dengan kriteria bagi peruntukkan air tersebut. Indikator pencemaran air atau tanda bahwa lingkungan air telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat digolongkan sebagai berikut:
1.       Nilai pH keasaman dan alkanitas
pH normal air adalah 6-8 pH. Bila terlalu rendah, air akan menjadi asam dan bila terlalu tinggi dapat menyebabkan basa.
2.       Suhu
Apabila suhu terlalu rendah, maka air akan terasa sejuk bahkan dingin hingga sedingin es. Begitupula sebaliknya. Akan tetapi,air biasa akan memiliki suhu pas di ukuran 0  ̊ Celcius.
3.       Warna, bau dan rasa
Warna air yang bersih biasanya berbeda dengan warna normalnya (jernih dan bening). Bau biasanya tergantung pada sumber air, dapat disebabkan oleh bahan kimia, tumbuhan dan hewan air baik yang hidup maupun mati. Rasa air normal tidak mempunyai rasa, kecuali rasa air pada air laut.
4.        Pengamatan secara Biologis
Pengamatan pencemara air berdasarkan mikroorgansme yang ada didalam air, terutama ada atau tidaknya bakteri pathogen.
5.       Kandungan minyak
6.        Kandungan bahan radioaktif

Sejatinya, air adalah rezeki yang diturunkan Tuhan untuk kehidupan manusia. Air adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan di dunia ini dengan kata lain, bahwa tanpa air seluruh kehidupan di dunia ini akan punah. Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang merupakan pemakai ciptaan Tuhan yang luar biasa itu, harus dapat menjaganya.