Senin, 27 April 2015

Mengenal Minyak Sawit Dan Kerusakan Lingkungan


Mengenal Minyak Kelapa Sawit dan Kerusakan Lingkungan




Mungkin diantara kita banyak yang mengenal atau bahkan sudah bisa dikatakan sering mengkonsumsi produk-produk seperti sabun mandi, shampo, minyak goreng. Juga makanan yang enak seperti coklat dan ice cream. Untuk diketahui, produk-produk diatas adalah produk yang menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakunya. Jadi kali ini saya ingin membahas tentang apa itu minyak sawit dan dampak-dampak yang ditimbulkan dari pemakaian minyak sawit yang berlebihan pada saat ini.

Minyak sawit adalah salah satu jenis minyak nabati yang berasal dari daging buah kelapa sawit. Pada saat ini minyak sawit sangat diminati karena selain harganya yang murah, produktifitas per hektarnya juga sangat tinggi. Hal inilah yang membuat minyak sawit lebih diminati dibanding minyak nabati jenis lainnya seperti minyak kedelai, minyak lobak, minyak bunga matahari dan minyak bunga rapa.

Karena banyak manfaatnya, permintaan dunia akan minyak sawit semakin meningkat, khususnya dari Indonesia. 70% minyak sawit indonesia di ekspor keluar negeri untuk diolah menjadi produk rumah tangga, dan sisanya digunakan di dalam negeri. Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terbesar didunia.

Bahkan, tahun ini pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan produksi kelapa sawit hingga 40 juta ton pada tahun 2020 dimana pada tahun 2013 dengan luas lahan 10 juta hektar Indonesia memproduksi 20 juta ton.
Peningkatan produksi pohon kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab menimbulkan konsekuensi yang berdampak buruk bagi alam, iklim dan manusia yang hidup di muka bumi ini.

Perkebunan kelapa sawit berkontribusi dalam penggundulan hutan 300 ribu Ha (2009-2011).
Yang juga habitat penting harimau sumatera, gajah, orang utan dan hewan yang harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan hutan hujan tropis di dunia telah menyumbang 20% dari total emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim secara ektrim dan kenaikan temperatur bumi yang meningkat.

Dan pada akhirnya menyebabkan bencana iklim seperti banjir, kekeringan, kelaparan, pemanasan global, peningkatan permukaan air laut dan konflik sosial.
Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim kerusakan hutan menyumbang 83% dari emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Saat ini hanya 400 ekor harimau sumatera yang hidup di alam liar dan terus menyusut sampai akhirnya punah. Harimau adalah spesies indikator penting akan sehatnya hutan kita.
Kelapa sawit memang memiliki banyak manfaat, tapi juga memiliki dampak kerugian yang banyak bagi keseimbangan ekosistem dan alam kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar