Mengenal Minyak Kelapa Sawit dan Kerusakan
Lingkungan
Mungkin diantara kita banyak yang mengenal atau bahkan sudah bisa dikatakan sering mengkonsumsi produk-produk seperti sabun mandi, shampo, minyak goreng. Juga makanan yang enak seperti coklat dan ice cream. Untuk diketahui, produk-produk diatas adalah produk yang menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakunya. Jadi kali ini saya ingin membahas tentang apa itu minyak sawit dan dampak-dampak yang ditimbulkan dari pemakaian minyak sawit yang berlebihan pada saat ini.
Minyak sawit adalah salah satu jenis minyak nabati yang
berasal dari daging buah kelapa sawit. Pada saat ini minyak sawit sangat diminati
karena selain harganya yang murah, produktifitas per hektarnya juga sangat
tinggi. Hal inilah yang membuat minyak sawit lebih diminati dibanding minyak
nabati jenis lainnya seperti minyak kedelai, minyak lobak, minyak bunga
matahari dan minyak bunga rapa.
Karena banyak manfaatnya, permintaan dunia akan minyak
sawit semakin meningkat, khususnya dari Indonesia. 70% minyak sawit indonesia
di ekspor keluar negeri untuk diolah menjadi produk rumah tangga, dan sisanya
digunakan di dalam negeri. Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit
terbesar didunia.
Bahkan, tahun ini pemerintah Indonesia menargetkan
peningkatan produksi kelapa sawit hingga 40 juta ton pada tahun 2020 dimana
pada tahun 2013 dengan luas lahan 10 juta hektar Indonesia memproduksi 20 juta
ton.
Peningkatan produksi pohon kelapa sawit yang tidak
bertanggung jawab menimbulkan konsekuensi yang berdampak buruk bagi alam, iklim
dan manusia yang hidup di muka bumi ini.
Perkebunan kelapa sawit berkontribusi dalam penggundulan
hutan 300 ribu Ha (2009-2011).
Yang juga habitat penting harimau sumatera, gajah, orang
utan dan hewan yang harus dilindungi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan
hutan hujan tropis di dunia telah menyumbang 20% dari total emisi gas rumah
kaca yang menyebabkan perubahan iklim secara ektrim dan kenaikan temperatur
bumi yang meningkat.
Dan pada akhirnya menyebabkan bencana iklim seperti
banjir, kekeringan, kelaparan, pemanasan global, peningkatan permukaan air laut
dan konflik sosial.
Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim kerusakan hutan
menyumbang 83% dari emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Saat ini hanya 400 ekor harimau sumatera yang hidup di
alam liar dan terus menyusut sampai akhirnya punah. Harimau adalah spesies
indikator penting akan sehatnya hutan kita.
Kelapa sawit memang memiliki banyak manfaat, tapi juga
memiliki dampak kerugian yang banyak bagi keseimbangan ekosistem dan alam kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar